Beranda Ringkasan Fiqih Islam Ringkasan Fiqih Islam – Tauhid dan Iman

Ringkasan Fiqih Islam – Tauhid dan Iman

6
0

BAB I

TAUHID DAN IMAN

1. Tauhid

Tauhid, yaitu seorang hamba meyakini bahwa Allah ﷻ adalah Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam rububiyah (ketuhanan), uluhiyah (ibadah), Asma` dan Sifat-Nya.

Urgensi Tauhid: Seorang hamba meyakini dan mengakui bahwa Allah ﷻ semata, Rabb (Tuhan) segala sesuatu dan rajanya. Sesungguhnya hanya Dia yang Maha Pencipta, Maha Pengatur alam semesta. Hanya Dia lah yang berhak disembah, tiada sekutu bagi-Nya. Dan setiap yang disembah selain-Nya adalah batil. Sesungguhnya Dia Allah ﷻ bersifat dengan segala sifat kesempurnaan, Maha Suci dari segala aib dan kekurangan. Dia Allah ﷻ mempunyai nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang tinggi.

2. Pembagian Tauhid

Tauhid yang didakwahkan oleh para rasul dan diturunkan kitab-kitab karenanya ada dua:

  • Tauhid dalam pengenalan dan penetapan, dan dinamakan dengan Tauhid Rububiyah dan Tauhid Asma dan Sifat, yaitu menetapkan hakekat zat Rabb dan mentauhidkan (mengesakan) Allah ﷻ dengan asma (nama), sifat dan perbuatan-Nya.

Pengertiannya: seorang hamba meyakini dan mengakui bahwa Allah ﷻ sematalah Rabb yang Menciptakan, Memiliki, Membolak-balikan, dan Mengatur alam ini, yang sempurna pada zat, Asma dan Sifat-sifat, serta perbuatan-Nya, Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, Yang Meliputi segala sesuatu, di Tangan-Nya kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dia Allah ﷻ mempunyai asma’ (nama-nama) yang indah dan sifat yang tinggi. Allah ﷻ berfirman :

﴾لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ ﴿الشورى:١١

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Asy-Syura : 11)

  • Tauhid dalam tujuan dan permintaan atau permohonan, dinamakan tauhid uluhiyah dan ibadah, yaitu mengesakan Allah ﷻ dengan semua jenis ibadah, seperti: doa, shalat, takut, mengharap, dll.

Pengertiannya: Seorang hamba meyakini dan mengakui bahwa Allah ﷻ saja yang memiliki hak uluhiyah terhadap semua makhluk-Nya. Hanya Dia Allah ﷻ yang berhak untuk disembah, bukan yang lain. Karena itu tidak diperbolehkan untuk memberikan salah satu dari jenis ibadah seperti: berdoa, shalat, meminta tolong, tawakkal, takut, mengharap, menyembelih, bernazar dan semisal dengannya  melainkan hanya untuk Allah ﷻ semata. Siapa yang memalingkan sebagian dari ibadah ini kepada selain Allah ﷻ maka dia adalah seorang musyrik lagi kafir. Firman Allah ﷻ :

 وَمَن يَدۡعُ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ لَا بُرۡهَٰنَ لَهُۥ بِهِۦ فَإِنَّمَا حِسَابُهُۥ عِندَ رَبِّهِۦٓۚ إِنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلۡكَٰفِرُونَ

“Siapa menyembah ilah yang lain selain Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya disisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tidak akan beruntung.” (QS. Al-Mu’minun: 117)

Tauhid Uluhiyah atau Tauhid Ibadah; kebanyakan manusia mengingkari tauhid ini. Oleh sebab itulah Allah ﷻ mengutus para rasul kepada umat manusia, dan menurunkan kitab-kitab kepada mereka, agar mereka beribadah kepada Allah ﷻ saja dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Firman Allah ﷻ :

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ 

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Ilah (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS. Al-Anbiya`: 25)

Firman Allah ﷻ :

 وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”,…. (QS. An-Nahl : 36)

Hakekat dan Inti Tauhid

Hakekat dan inti tauhid adalah agar manusia memandang bahwa semua perkara berasal dari Allah ﷻ, dan  pandangan ini membuatnya tidak menoleh kepada selain Allah ﷻ tanpa sebab atau perantara. Seseorang  melihat yang baik dan buruk, yang berguna dan yang berbahaya dan semisalnya, semuanya  berasal dari-Nya. Seseorang menyembah-Nya dengan ibadah yang mengesakan-Nya dengan ibadah itu dan tidak menyembah kepada yang lain.

Buah Hakekat Iman

Seseorang hanya tawakkal kepada Allah ﷻ semata, tidak memohon kepada makhluk serta tidak pedulikan celaan mereka. Ia ridha kepada Allah ﷻ, mencintai-Nya dan tunduk kepada hukum-Nya. Tauhid Rububiyah diakui manusia dengan naluri fitrahnya dan pemikirannya terhadap alam semesta. Tetapi sekedar mengakui saja tidaklah cukup untuk beriman kepada Allah ﷻ dan selamat dari siksa-Nya. Sungguh iblis telah mengakuinya, juga orang-orang musyrik, namun tidak ada gunanya bagi mereka. Karena mereka tidak mengakui tauhid ibadah kepada Allah ﷻ semata.

Siapa yang mengakui Tauhid Rububiyah saja, niscaya dia bukanlah seorang yang bertauhid dan bukan pula seorang muslim, serta tidak dihormati atau diharamkan darah dan hartanya sampai dia mengakui dan menjalankan Tauhid Uluhiyah. Sehingga dia bersaksi bahwa tidak ada Ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah ﷻ semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan dia mengakui hanya Allah ﷻ saja yang berhak disembah, bukan yang lainnya, dan konsekuensinya adalah hanya beribadah kepada Allah ﷻ saja, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Tauhid Uluhiyah dan Rububiyah memiliki ketergantungan satu sama lain

  1. Tauhid Rububiyah mengharuskan kepada Tauhid Uluhiyah. Siapa yang mengakui bahwa Allah ﷻ Maha Esa, Dia lah Rabb, Pencipta, Yang Memiliki, dan yang memberi rizki niscaya mengharuskan dia mengakui bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah ﷻ.

Maka dia tidak boleh berdoa melainkan hanya kepada Allah ﷻ, tidak meminta tolong kecuali kepada-Nya, tidak bertawakkal kecuali kepada-Nya. Dia tidak memalingkan sesuatu dari jenis ibadah kecuali hanya kepada Allah ﷻ semata, bukan kepada yang lainnya. Tauhid uluhiyah mengharuskan bagi tauhid rububiyah agar setiap orang hanya menyembah Allah ﷻ saja, tidak menyekutukan sesuatu dengannya. Dia harus meyakini bahwa Allah ﷻ adalah Rabb-Nya, Penciptanya, dan Pemiliknya.

  1. Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah terkadang disebutkan secara bersama-sama, akan tetapi keduanya mempunyai pengertian berbeda. Makna Rabb adalah yang memiliki dan yang mengatur dan sedangkan makna ilah adalah yang disembah dengan sebenarnya, yang berhak untuk disembah, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Seperti firman Allah ﷻ :

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ ١ مَلِكِ ٱلنَّاسِ ٢ إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ ٣ 

“Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb manusia. Raja manusia. Sembahan manusia”. (QS. An-Naas: 1-3)

Dan terkadang keduannya disebutkan secara terpisah, maka keduanya mempunyai pengertian yang sama, seperti firman Allah ﷻ :

 قُلْ أَغَيْرَ اللّهِ أَبْغِي رَبّاً وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ وَلاَ تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلاَّ عَلَيْهَا وَلاَ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى ثُمَّ إِلَى رَبِّكُم مَّرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ ﴿الانعام: ١٦٤

Katakanlah: “Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan.” (QS. An-An’aam: 164)

Keutamaan Tauhid

  1. Firman Allah ﷻ :

الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ ﴿الانعام: ٨٢

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. Al-An’am : 82)

  1. Dari ‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallohu’anhu, bahwasanya Nabi ﷺ bersabda, “Siapa yang bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah ﷻ. Tiada sekutu bagi-Nya. Dan sesungguhnya Muhammad ﷺ adalah hamba dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Isa adalah hamba dan Rasul-Nya, serta kalimah-Nya yang diberikan-Nya kepada Maryam dan Ruh dari-Nya. Dan (siapa yang bersaksi dan meyakini bahwa) surga adalah benar, neraka adalah benar, niscaya Allah ﷻ memasukkannya ke dalam surga berdasarkan amal yang telah ada”. [HR. Bukhori no. 3435, Muslim no. 28].
  1. Dari Anas bin Malik radhiyallohu’anhu, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, Allah ﷻ berfirman, Wahai keturunan Adam, selama kamu berdoa dan mengharap kepada-Ku, niscaya Aku ampuni semua dosa kalian dan Aku tidak perduli (sebanyak apapun dosanya). Wahai keturunan Adam, seandainya dosa-dosamu telah mencapai setinggi langit, kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni dan Aku tidak perduli (sebanyak apapun dosamu). Wahai keturunan Adam, jika engkau datang dengan kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau datang menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Ku, niscaya Aku datang kepadamu dengan ampunan sepenuhnya (bumi).” [HR. At-Tirmidzi no. 3540]

Balasan Ahli Tauhid

  1. Firman Allah ﷻ:

 وَبَشِّرِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۖ كُلَّمَا رُزِقُواْ مِنۡهَا مِن ثَمَرَةٖ رِّزۡقٗا قَالُواْ هَٰذَا ٱلَّذِي رُزِقۡنَا مِن قَبۡلُۖ وَأُتُواْ بِهِۦ مُتَشَٰبِهٗاۖ وَلَهُمۡ فِيهَآ أَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞۖ وَهُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ  ﴿البقرة: ٢٥

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu”. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah: 25)

  1. Dari Jabir radhiyallohu’anhu, ia berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah dua perkara yang bisa dipastikan?’ Beliau menjawab, ‘Siapa yang meninggal dunia dalam keadaan tidak menyekutukan sesuatupun dengan Allah ﷻ niscaya dia masuk surga dan siapa yang meninggal dunia dalam keadaan menyekutukan sesuatu dengan Allah ﷻ, niscaya dia masuk neraka.” [HR. Muslim no. 93]

Keagungan Kalimah Tauhid

  1. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallohu’anhu, sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Nabi Nuh ‘alihissalam tatkala menjelang kematiannya, beliau berkata kepada anaknya, “Sesungguhnya aku sampaikan wasiat kepadamu: Aku perintahkan kepadamu dua perkara dan melarangmu dari dua perkara. Saya perintahkan kepadamu dengan kalimat laa ilaaha illallah (Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah). Sesungguhnya seandainya tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi diletakkan dalam satu daun timbangan dan kalimah laa ilaaha illallah (Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah) diletakkan pada daun timbangan yang lain, niscaya kalimat laa ilaaha illallah lebih berat. Dan jikalau tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi merupakan sebuah lingkaran yang samar, niscaya dipecahkan oleh kalimah laa ilaaha illallah dan subhanallahi wabihamdih (maha suci Allah dan dengan memuji-Nya), sesungguhnya ia merupakan inti dari semua ibadah. Dengannya makhluk diberi rizqi. Dan aku melarangmu dari perbuatan syirik dan takabur…” [HR. Ahmad no. 6583 dan al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad no. 558]

Kesempurnaan Tauhid

Tauhid tidak sempurna kecuali dengan beribadah hanya kepada Allah ﷻ semata, tiada sekutu bagi-Nya dan menjauhi thaghut, seperti firman Allah ﷻ :

 وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖ  ﴿النحل: ٣٦

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu.” (QS. An-Nahl : 36)

Thaghut adalah setiap perkara yang hamba melewati batas dengannya berupa sesembahan seperti berhala, atau yang diikuti seperti peramal dan para ulama jahat, atau yang ditaati seperti para pemimpin atau pemuka masyarakat yang ingkar kepada Allah ﷻ. Thaghut itu sangat banyak dan intinya ada lima:

  1. Iblis, dan semoga Allah ﷻ melindungi kita darinya,
  2. Siapa yang disembah sedangkan dia ridha,
  3. Siapa yang mengajak manusia untuk menyembah dirinya,
  4. Siapa yang mengaku mengetahui yang gaib,
  5. Siapa yang berhukum kepada selain hukum Allah ﷻ.

Insyaa Allah bersambung,,,

Silahkan download versi Ebook Pdf disini

——○●※●○——
© Artikel : TamanSurga-tpq.id


Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” 
[HR. Muslim no. 1893]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here