Beranda Keutamaan Hukum dan Hikmah Ibadah Kurban

Hukum dan Hikmah Ibadah Kurban

15
0

Idul Qurban atau Idul Adha adalah salah satu hari raya umat muslim yang ditetapkan oleh agama. Pada hari tersebut, disyariatkan ibadah udhiyah atau dikenal dengan ibadah qurban, yaitu menyembelih hewan qurban dengan aturan tertentu dalam rangka taqarrub kepada Allah Ta’ala. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Hari dimulainya puasa adalah hari ketika orang-orang berpuasa, Idul Fitri adalah hari ketika orang-orang berhari raya, dan Idul Adha adalah hari ketika orang-orang menyembelih” (HR. Tirmidzi, Ad Daruquthni, dinilai shahih oleh Al Albani)

Hukum udhiyah

Al Udhiyah atau an nusuk atau an nahr atau biasa disebut ibadah qurban adalah ibadah yang agung yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala. Ia berfirman (yang artinya), “Shalatlah kepada Rabb-mu danberqurbanlah” (QS. Al Kautsar : 2). Allah Ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, sembelihanku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (QS. Al An’am: 162).

Ibadah qurban ini juga ada dalam syariat umat-umat terdahulu, sebagaimana disebutkan oleh Allah dalam Al Qur’an (yang artinya), “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap bahiimatul an’am yang telah direzekikan Allah kepada mereka” (QS. Al Hajj : 34). Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menyatakan, “Ayat ini menunjukkan bahwa ibadah qurban adalah bentuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah yang disyariatkan di semua millah pada setiap ummat” (Ahkamul Udhiyyah wadz Dzakah, 2/213).

Para ulama berselisih pendapat mengenai hukumnya. Sebagian ulama mengatakan hukumnya wajib bagi setiap orang yang mampu, dan sebagian ulama mengatakan hukumnya sunnah muakkadah. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa memiliki kelapangan, namun ia tidak berqurban, maka janganlah datangi mushalla kami” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dinilai hasan oleh Al Albani). Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan, “Langkah yang lebih hati-hati adalah hendaknya orang yang mampu tidak meninggalkan ibadah udhiyyah, karena dengan demikian ia dapat mengagungkan Allah dan terlepas dari tuntutan agama secara yakin” (Ahkamul Udhiyyah wadz Dzakah, 2/219).

Hikmah Udhiyyah

Ibadah udhiyyah adalah ibadah agung dan merupakan ketaatan yang besar. Ia diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Maka orang yang melaksanakannya berarti ia telah menjalankan perintah Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kemudian seseorang yang rela mengorbankan hartanya baik berupa uang ataupun berupa hewan sembelihan demi mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, menunjukkan ketulusan penghambaannya kepada Allah dan menunjukkan bahwa ia adalah hamba Allah yang sejati. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin ketika mengomentari surat Al Hajj ayat 34 di atas beliau berkata, “Ayat ini juga menunjukkan ibadah qurban adalah bukti nyata bahwa seseorang itu adalah hamba Allah yang sejati dan ibadah qurban itu juga mengandung maslahat di setiap zaman, setiap tempat, dan setiap umat” (Ahkamul Udhiyyah wadz Dzakah, 2/213).

Selain itu para ulama mengatakan bahwa berqurban di hari Idul Adha itu lebih utama dan lebih besar pahalanya dari pada bersedekah harta dengan nilai yang sama dengan hewan qurban yang disembelih. Ibnu Qayyim Al Jauziyyah menyatakan, “Berqurban pada waktu Idul Adha itu lebih utama dari bersedekah dengan nilai harta yang sama, bahkan andaikan nilai harta yang disedekahkan itu lebih banyak, tetap lebih utama berqurban dibandingkan memberi hadiah dan sedekah daging sembelihan (di luar waktu udhiyyah) walaupun sama-sama menyembelih dan mengalirkan darah, karena ibadah udhiyyah itu digandengkan dengan shalat sebagaimana dalam ayat, “Shalatlah kepada Rabb-mu dan berqurbanlah” (QS. Al Kautsar : 2). Juga ayat, “Katakanlah: sesungguhnya sembahyangkusembelihanku, hidupku, dan matiku, hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (QS. Al An’am : 162). Pada setiap umat terdahulu ada shalat serta berqurban, dan tidak ada amalan lain yang bisa menggantikan posisi dua ibadah tersebut (shalat dan berqurban)” (dinukil dari Ahkamul Udhiyyah wadz Dzakah, 2/220).

Kemudian para ulama menyebutkan, diantara hikmah dari ibadah qurban adalah:

  1. Menghidupkan ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam yang diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih anak tercintanya, Nabi Ismail ‘alaihis salaam di hari an nahr (Idul Adha). Sebagaimana kisahnya diabadikan dalam surat Ash Shaffat ayat 99-106. Kemudian Allah ganti Ismail dengan seekor kambing sebagai kabar gembira bagi mereka. Dalam kisah ini terdapat banyak pelajaran berharga mengenai kesabaran, ketaatan yang luar biasa, pengorbanan, dan keshalihan orang tua dan anaknya, yang ini hendaknya diteladani dan dicontoh oleh setiap orang yang berqurban dan selain mereka.
  2. Ibadah qurban juga memberikan kegembiraan pada diri sendiri, keluarga, tetangga, kerabat, teman, dan sekaligus bersedekah kepada orang miskin dengan daging sembelihan yang dibagikan kepada mereka.
  3. Ibadah qurban juga merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah. Allah Ta’ala telah memberi nikmat yang tidak terhitung kepada kita. Maka ibadah qurban ini adalah ujian bagi kita, apakah kita bersyukur ataukah tidak atas nikmat tersebut?

(Al Mufashal fii Ahkamil Udhiyyah, hal. 10-24).

Walloohua’lam,,,

Demikian semoga sajian ringkas ini semakin membuat kita bersemangat untuk melakukan ibadah yang mulia ini.

Artikel TamanSurga-tpq.id

sumber : https://buletin.muslim.or.id

Download Ebook Belajar Qurban Sesuai Tuntunan Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, Msc KLIK DISINI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here